Graha di kampus STESIA Surabaya sudah dipenuhai orang. Ada wajah wajah baru, masih muda, ada juga wajah wajah lama yang sudah berpengalaman. Ada yang keluar dan masuk. Apalagi di tempat parkir, ramainya minta ampun. Itulah susana tes rekruitmen PT. PERTAMINA persero. Ribuan orang mengadu nasib disana. Sampai di buat 2 batch. Pagi dan Siang. Kebetulan aku temasuk batch siang. Hingga waktu datang kondisinya sangat crowded. Aku menunjukkan undangan tesku ke petugas dan memasuki ruangan dengan tenang. Aku sudah sangat terbiasa dengan kondisi itu, berkali kali tes kerja dan berkali kali pula di tolak. Nasib..nasib
Sekitar jam 11 tes dimulai. Aku mengerjakan dengan cepat karena sepertinya aku sudah hafal dengan soal soalnya. (read: saking seringnya test). Yang lolos akan diumumkan hari itu juga sekitar jam 4 sore, dan yang lolos akan ada tes berikutnya langsung. Ini merupakan kompetisi yang ketat. Dari pelamar yang mencapai 60rb jiwa, hanya sekitar 2000 yang dipanggil untuk tes. Dan selanjutnya entah berapa orang yang akan diambil. Setelah menunggu dengan sabar akhirnya nama nama yang lolos tes tahap 1 ditempel di papan pengumuman. Aku salah satunya. Alhamdulillah.
Tes berikutnya adalah tes kepribadian, dengan 225 soal. Bagi yang pernah tes psikotes pasti sudah eneg mengerjakannya. Aku sudah malas membaca soalnya dan hanya membacanya sekilas saja. Lanjut keesokan harinya adalah group discussion.
sekian untuk tes tahap 1.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama aku juga sedang menjalani tes rekrutmen PJBs. Kali ini tesnya di universitas airlangga. namanya tes karja tetep saja berjibun orangnya. apakah ini menunjukkan kalau tingkat pengangguran di Indonesia masih sangat tinggi?? pastinya
BINGUNG
Peristiwa dilematis terjadi ketika aku mendapat panggilan untuk tes selanjutnya. Tes lanjutan PERTAMINA akan dilaksanan dua hari. Dimana hari pertama adalah interview user dan tes bahasa inggris, dan hari kedua adalah tes kesehatan. sementara ada panggilan juga untuk tes PJBs untuk interview tahap akhir setelah aku lolos 2 tes sebelumnya dan wakunya bersamaan dengan tes kesehatan. Posisiku waktu itu adalah seorang karyawan sebuah pabrik di surabaya. “kuli lebih tepatnya”
Mengaku ngaku sakit untuk menjalani tes, sudah pernah ku lakukan, tapi hati ini sungguh tak tenang karena berkata bohong. Misalakan ketrima juga kuatir ntar rejekinya ga berkah. Maka dengan penuh penyesalan aku menghadap manajerku dan mengatakan perihal panggilan tes yang ku terima. Di luar dugaan manajerku malah tersenyum sumringah, katanya gak apa2, itu demi masa depanku. Alhamdulillah. Gak ada masalah untuk perijinan. Yang jadi masalah sekarang, bisakah aku menjalani keduanya? atau harus memilih salah satu??
Akhirnya aku memutuskan untuk apa adanya aja, nothing to loose. Kalau memungkinkan untuk menjalani keduanya akan kulakukan, tapi kalau tidak aku akan pilih PERTAMINA. Alasannya, Bapak ku tukang jual minyak tanah, ya dikit dikit ada bau bau PERTAMINA nya lah hehe (maksa.com)
Tidak masalah untuk hari pertama tes PERTAMINA. Aku dihadapkan pada 4 orang dari berbagai divisi. Ditanya mulai dari yang berhubungan dengan kuliah, pekerjaan yang kujalani waktu itu sampai pertanyaan2 yang menurutku ga nyambung blass. Tapi itulah tes kerja, kita ga tahu apa yang mereka mau. so hajar aja (silir’s special words)
Malamnya tes bahasa inggris di LPB Lia, syukurlah berjalan lancar meskipun aku datangnya telat. Gimana gak telat lawong tesnya habis maghrib pas.
Keesokan harinya waktunya tes kesehatan. Tempatnya di LAB medis Prodia, jL. bogowonto. Aku datang pagi agar bisa cepet selesai. Ternyata mencari cari tempatnya ga ketemu-ketemu. Padahal sudah bawa peta, masih aja kesasar. Meskipun sering lewat jalan diponegoro tapi aku gak pernah sampai masuk ke jalan Bogowonto. Akhirnya waktu aku menemukan tempatnya sudah banyak temen di sana. Ternyata banyak juga yang lolos sampai tahap ini. so, Harus mengantri. Padahal aku ada wawancara PJBs hari itu juga di Universitas Surabaya, Rungkut. Selanjutnya nanti sore masih ada tes fisik/ kebugaran, yaitu lari di gedung pertamina Jagir, Surabaya. Hmm, susah juga bagi waktunya. Tapi sekali lagi aku menanamkan dalam diri kalau rejeki sudah ada yang mengatur, janganlah terlalu pusing memikirkan, yang penting jalani saja. Tapi tentunya harus berusaha semaksimal mungkin.
Waktu dzuhur aku baru selesai tes kesehatan. Aku menghubungi temanku yang juga tes PJBs. Dia menyarankan agar aku datang aja. Mungkin masih bisa. Aku memutuskan untuk balik ke kos dulu. Sholat duhur dan ganti baju. Lalu dengan kecepatan 70km/jam aku meluncur ke Universitas Surabaya tempat interview PJBs dilakukan. Untunglah aku masih bisa mengikuti wawancara meskipun sebenernya jadwalku adalah pagi. Tapi aku harus menunggu sampai semua selesai dulu. Masalah baru muncul. Jam 3 aku harus sudah di ke gedung PERTAMINA buat tes kebugaran. Kalo ga bisa hadir bakal sia2 semuanya. Tapi itulah resikonya kalo berusaha menjalani keduanya. Meskipun mungkin bisa menjalani semua, tentunya diperlukan usaha yang lebih. Pikiran dan tenaga extra. wuihhh
Jam 14:45 aku keluar dr ruang wawancara. Segera berlari ke arah parkiran untuk mengambil sepeda motorku. Meluncur ke gedung PERTAMINA jagir, wonokromo. Untunglah tidak terlambat. Aku masih sempat ganti pakaian olahraga dan istirahat sebentar. Tapi ketika lari, aku sepertinya sudah ga kuat, sudah capek. Bangetzzz. Ini tinggal selangkah lagi, ayo semangat. Begitulah bisikan bisikan kecil dalam hatiku.

Note: A= Prodia Lab, B= Kosanku, C= UBAYA, D= PERTAMINA
Hari Penentuan
Setelah sebulan berikutnya ada kabar dari PJBs. Dari sekitar 30 orang yang wawancara diambil 22 orang. Cukup banyak bukan. Tapi aku termasuk dari 8 orang yang tidak diterima. Namun pantaskah aku sedih, ketika waktu itu dihadapanku sedang terbaring salah seorang teman di Rumah sakit Dokter sutomo, surabaya. Dia sedang berjuang keras melawan penyakit Leukimia yang dideritanya. Jika kegagalan adalah cobaan, bukankah cobaan temanku dan keluarganya ini jauh lebih berat daripadaku. Apalagi ketika akhirnya temanku ini meninggal dunia setelah 2 bulan di rumah sakit. Maka sungguh tidaklah pantas aku merasa bersedih hati. Hanya gara gara tidak lolos tes kerja. beside that, bukankah sudah terbiasa ditolak juga 
Sampai disini perjuangan tes PJBs.
Beberapa bulan kemudian aku mendapat telepon. Seorang wanita dari dalam sana mengatakan aku lolos tes PERTAMINA dan harus datang ke jakarta untuk interview dengan Ibu direktur pengolahan. Katanya aku sebenarnya sudah lolos tes, tapi perlu penegasan masalah komitmen. Betapa senangnya hatiku. Akhirnya penolakan PJBs ada hikmahnya juga. Coba kalau aku sudah diterima di PJNs, pasti aku akan bingung pada waktu itu. Yach, apakah memang ini jawaban dari doa2 ku??
Aku segera mempersiapkan diri pergi ke jakarta, untunglah waktu itu ada juga temen kuliahku yang akan ke jakarata untuk tes ESDM. Dan kami memutuskan untuk naik kereta bisnis gumarang. Tentu saja, karena kami ga punya uang buat naik kereta eksekutif.
Sekitar jam 4 sore, Aku masih di angkot menuju stasuin pasar turi, Surabaya ketika temanku menelepon.
“Jasmine (bkn panggilan sebenarnya) ,
kita kehabisan tiket” teriaknya dengan nada panik.
“klo eksekutif?” tanyaku sok jd orang kaya
“semua habis,” jawabnya masih dengan panik
kalau untuk mengejar kereta ekonomi jelas tak mungkin, karena sudah berangkat jam 2 siang. Sedangkan kami harus berangkat hari itu juga.
“Ok, tunggu aku, sebentar lagi sampai. nanti kita pikirkan caranya” jawabku sok bijaksana
Otakku mulai bekerja keras. Gimana alternatif berangkat ke jakarta. Pesawat jelas tak akan masuk dalam pertimbangan, karena kami tak punya uang sebanyak itu.
Sampai stasiun aku langsung menuju loket, melakukan sedikit dialog dan akhirnya kami dapat tiket kereta yang kami inginkan tetapi “NO SEAT”.. Untunglah temanku adalah type yg bisa diajak bersusah susah, dia pun setuju meskipun kami akan duduk di bawah, alias “nglesot”. segera kami membeli koran bekas sebagai alas dan sedikit kue untuk bekal di jalan.
Karena “NO SEAT” kami mencari sela sela gerbong kereta untuk mendekam. Kami gelar koran dan duduk diatasnya. Sejujurnya sangat tidak nyaman. Persis gelandangan yang numpang kereta gratis. Padahal kami bayar dengan harga yang sama persis dengan yang dapat tempat duduk. Andaikan di kasih diskon 50% gitu masih lumayan lah. Dan semalaman kami akan berada pada kondisi itu. Belum lagi harus menjaga barang2 kami dari incaran copet. Meski sesungguhnya tiada yang berharga di dalam tas kami.
Waktu seakan berjalan begitu lama. Naik kereta tanpa tempat duduk ternyata benar benar menyiksa. Tapi aku sedang bahagia waktu itu, Tinggal sedikit lagi dan statusku sebagai jobseeker akan segera berakhir. Semoga. Aku banyak berdo’a selama dalam perjalanan. Agar diberi kekuatan dan segera ditunjukkan jalan yang terbaik. Semoga saja ini memang yang terbaik untuku.
Akhirnya sampailah kami d Stasiun Gambir. Mendapati kami masih dalam keadaan selamat, dan sehat wal afiat, sudah merupakan anugerah yang luar biasa. Aku sempat khawatir jatuh sakit pas nyampe jakarta. Tapi ternyata Allah sungguh melindungiku dari segala marabahaya. Alhamdulillah
15 menit yang menentukan
Sampai jakarta kami menuju kosan salah seorang teman. Disanalah aku menumpang, dan temanku akan menginap di tempat lain. Tes ku dijadwalkan sore hari di menara PERTAMINA, jl merdeka timur, Jakarta. Dekat dengan stasiun Gambir.
Saat aku tiba, ada 14 cewek yang akan mengikuti prosesi interview. Mereka dari berbagai daerah. hanya 2 orang yang dari Surabaya. Ternyata memang yang perempuan saja yang dipanggil untuk interview dengan direksi, sedangkan yang laki laki sudah diterima ketika mereka lolos rangkaian tes sebelumnya. Aku sedikit Grogi. Bagaimanapun ini adalah perusahaan yang tidak hanya ku idamkan, tapi juga harapan daro orang tua. Dan aku sudah berada pada titik akhir penentuan. Apalagi mbak bagian HRD bilang kalau akan diambil maksimal 13 orang. Bisa jadi kurang dari itu jika banyak peserta yang dinyatakan tidak lolos kualifikasi.
Hatiku semakin berdebar. Kemungkinannya cukup besar meskipun kemungkinan gagal tetap ada. Aku berusaha menata hati untuk siap menerima segala kemungkinan. “just do the best”
Tibalah giliranku. Aku ditanya tentang masalah komitmen, pernikahan dan hal hal seputar dilematisme perempuan yang bekerja. Aku merasa bisa menjawab dengan cukup diplomatis. Namun aku benar benar mati kutu ketika ibu kepala mengatakan padaku “Ku rasa kamu terlalu kurus untuk posisi bagiam pengolahan” gedubrak, aku terdiam. Kalau masalah berat badan bukankah sudah terecord di tes kesehatan, pikirku. Seandainya terlalu kurus mengapa aku diloloskan sampai tahap ini??. Tapi apakah mungkin aku berkata seperti itu. yang pasti hanya senyum yang harus terkembang walau hati mungkin teriris iris (klo ada silir pasti dia sudah bilang aigoooooo). kemudian Beliau melanjutkan dengan menceritaka tugas tugas yang nanti harus dilakukan. Beliau mengakhiri dengan ucapan semoga sukses setelah sebelumnya menjatuhkan mentalku dengan pertanyaan pertanyaan meyudutkan. Keluar dari gedung pertamina, perasanku sudah gak enak, tapi sekali lagi bukankah sudah ada yang maha mengatur rejeki.
Jam 10 malam HP ku berdering, sms masuk. Aku tak mendengarnya karena sudah terlalap, dan pagi baru ku buka. Ternyata sms dari mbak HRD nya PERTAMINA. isi sms nya lumayana panjang, namun intinya sangat singkat “anda tidak tidak terima” Hancur sudah harapanku mendapat pekerjaan yang ku idam idamkan. Semua perjuangan, dari awal sepertinya sia-sia. Tak kuasa air mata ini menetes, dengan berat hati ku telepon orang tua. Kukabarkan berita kegagalanku ini. Padahal aku sudah lama menanti agar bisa telpon orang tua dan mengabarkan keberhasilan. Sesungguhnya untuk aku sendiri bisa mengatasi, tapi aku hanya tak tega harus mengecewakan orang tua lagi. Aku tahu mereka sangat berharap aku bisa bekeja di PERTAMINA. Karena sejak awal ayahku memang berharap aku bisa bekerja di perusahaan itu, bahkan sejak aku mulai kuliah. Kecewa memang sakit rasanya, tapi membuat orang lain kecewa ternyata lebih pedih lagi. Aku langsung dzikir. menyebut AsmaNya, karena aku tak ingin bersuudzan padaNya. Lalu sedikit demi sedikit aku mulai menyusun lagi kekuatan.
Allah tak mungkin memberikan takdir ini jika ini bukan yang terbaik bagiku, tak mungkin pula memberikan ujian jika tak mampu kuatasi. Allah maha penyayang dan maha mengetahui. Kita tak pernah tahu rencanaNya. Bukankah Rejeki, jodoh dan kematian sudah tercatat. Aku sudah berusaha sejauh kapasitasku sebagai manusia, masalah hasil, mutlak kehendakNya. hanya satu yang pasti, tiada usaha yang sia-sia.
Kereta yang akan membawaku ke Surabaya akan berangkat dari stasiun gambir jam 6 sore. Namun Ba’da sholat ashar aku sudah cabut dari kosan temenku. Naik ojek ke stasiun dan berhenti di tugu monas. Aku berjalan tanpa tujuan di lapangan MONAS. keliling keliling gak jelas. Tapi jangan kuatir kawan, aku masih waras. Pikiranku tidak lagi kosong. Justru sebaliknya, aku terus berfikir. Bagaimana rencana setelah ini. Aku sudah resign dari pekerjaanku waktu itu. Aku juga tidak sedang menjalani tes yang lain. Sehingga bisa dibilang, aku benar benar jadi pengagguran sejati. Sementara menara PERTAMINA begitu jelas terlihat dari sana. Sejelas luka yang masih menganga (halah berlebihan).
Memang kalo belum rejeki akan ada saja alasan untuk gagal, aku sepenuhnya sadar dengan takdir, aku pun bisa terima, tapi ternyata butuh waktu untuk bisa menjernihkan pikiran, terus terang aku lelah, aku sudah capek ratusan kali mengirimkan surat lamaran, puluhan kali tes dan gagal. Aku merasa aku sudah berjuang keras, tapi mengapa keberhasilan masih enggan menyapa. Mungkin hanya satu jawabannya “belum waktunya”
Kereta api Gumarang membawaku kembali ke Surabaya. Aku diam. bahkan tak berbicara sedikitpun dengan orang yang duduk disebelahku. Tak ingin lagi aku memikirkan kegagalan. Aku tak ingin berfikir negatif degan takdirNya. Aku hanya percaya Allah menyayangiku dan ini yang terbaik bagiku. Jadi pasti ada rencana yang lebih baik setelah ini, yang disiapkan untukku. Bukan hanya terbatas pada apa yang kuinginkan, tapi pada apa yang sesungguhnya aku butuhkan.
Keesokan harinya aku sudah sampai Surabaya. Kututup babak kesedihan sampai disini. My Rommate menyambutku dengan dengan perasaan belasungkawa, tapi jujur aku sudah bisa tertawa. “sudah kering air mataku mbak ne, tiada artinya menyesali yang sudah terjadi, toh itu juga bukan sebuah kesalahan. tapi takdir dariNya” dan kitapun menikmati masakan padang bersama. Rasanya tetep nikmat tuh hehehe. Special thanks to my rommate for the shoulders to cry on. ada OST nya ini.
Rupanya hikmah yang aku nanti terjawab di bulan Februari 2009. Ternyata memang sudah ada jalan untukku. Yang semakin kesini semakin kusyukuri. Karena ternyata aku mendapat jauh lebih banyak dari yang aku minta. Memang secara materi mungkin tak sebanyak jika aku bekerja di perusahaan BUMN. tapi secara immateri, tak terhitung jumlahnya. Dan yang pasti, aku bahagia.
Segala Puji bagiMu ya Rabb, yang telah melimpahkan segala nikmat dan karuniaMu. Yang memberiku jalan yang panjang untuk berposes, memberiku pelajaran agar aku mengetahui, memberiku ujian agar aku kuat. Ku tahu ke depan akan masih banyak tantangan. Dan hanya PadaMu aku memohon kekuatan, petunjuk dan pertolongan.
Taipei, september 30, 2009
kenangan setahun kemarin
Recent Comments